Rabu, 26 Desember 2012

Penajaman Fungsi

Salam Kebangsaan...
Sudah menjadi hal yang normal di Angkatan Perang Republik ini untuk memaksakan semuanya serba bisa dikerjakan dan serba mampu dalam melaksanakan sebuah kegiatan yang melibatkan sumber daya manusia dan peralatan. Bahkan ada pemeo yang mengatakan bahwa tugas tambahan lebih banyak dikerjakan dari tugas pokok yang telah ditetapkan oleh sebuah kebijakan, artinya bahwa pekerjaan yang dapat dikerjakan bersama-sama mengapa harus dikerjakan sendiri-sendiri dalam arti dan makna yang lain. Sebenarnya banyak kesamaan fungsi yang dikerjakan oleh jajaran satuan di lingkungan Angkatan Perang sehingga banyak pula pekerjaan yang luput karena kesamaan fungsi tersebut. Bila dipelajari secara obyektif sebenarnya ini tidak boleh terjadi karena akan mengakibatkan pemborosan biaya dan tidak tercapainya tugas pokok yang diberikan. Sebagai contoh untuk mempertimbangkan pembelian sebuah sistem senjata cukup banyak satuan dalam satu payung organisasi yang sama ikut menangani dan memberikan pertimbangan bahkan ikut memutuskan alat apa yang pantas untuk dibeli dan yang terjadi adalah pemborosan tenaga serta pikiran karena pekerjaan yang berulang namun hasilnya sama. Pada kenyataanya sudah ada satuan yang memang berfungsi untuk melaksanakan fungsi tersebut. Fungsi-fungsi dalam sebuah organisasi apabila dijalankan dengan baik akan mendapatkan hasil yang optimal bila konsisten dalam melaksanakan peran sesuai dengan fungsinya. Contoh yang telah diatas dapatlah diambil satu kesimpulan bahwa bila penajaman fungsi dapat dilaksanakan dengan baik dan pemberi kebijakan mengerti apa yang harus dikerjakan maka tidak akan terjadi tumpang tindih dan pengerjaan ganda yang lebih banyak ruginya daripada untungnya. Satu fungsi saja bila dikerjakan sesuai dengan arah dan kebijakan yang disertai dengan daya dukung maksimal maka akan menghasilkan output yang optimal pula. Tanpa mengecilkan peran dan fungsi dapat terwakili oleh analogi berikut ; dinas pemadam kebakaran fungsinya adalah memadamkan api yang berkobar dan bila didiamkan akan menimbulkan kerugian, dinas pariwisata fungsinya mengembangkan potensi wisata dan hal yang berkaitan dengan kepariwisataan, dinas telekomunikasi fungsinya sebagai pelaksana di bidang komunikasi. Sebaiknya tidak dibolak-balik sehingga tugas yang diberikan dapat dikerjakan dengan baik.

Senin, 03 Desember 2012

Fasilitas Pangkalan

Salam Kebangsaan...
Salah satu fungsi Pangkalan Utama Angkatan Laut adalah mampu menyelenggarakan rest and recreation atau fungsi perawatan personil bagi awak kapal perang yang sedang sandar selain 3 fungsi lainnya yaitu menyediakan fasilitas pelabuhan, fasilitas pemeliharaan dan perbaikan serta fasilitas pembekalan. Fungsi-fungsi tersebut merupakan fungsi wajib yang harus dimiliki sebagai 'syarat' berdirinya sebuah Pangkalan. Banyak pangkalan di Indonesia belum dibangun secara optimal dan tentu saja dengan fasilitas yang seadanya dengan kategori 'yang penting ada dulu' tanpa mempertimbangkan efektifitas dan biaya yang dikeluarkan untuk memelihara dan mengoperasikan fasilitas tersebut. Fungsi perawatan personil sebenarnya menjadi hal mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, tidak sulit bila disertai dengan niat dan kemauan yang tinggi. Ambil saja contoh sebuah pangkalan di negara tetangga atau konsep negara-negara maju lainnya dalam membangun sebuah pangkalan yang lengkap dengan sarana perawatan personil berupa sarana kesehatan, olah raga, pemenuhan kebutuhan, tempat tinggal, angkutan, dan lain sebagainya. Tidak perlu terlalu njelimet untuk memikirkan ini dan itu sehingga pembangunan jadi terkesan 'setengah-setengah'. Tidak salah bila sebuah pangkalan memiliki fasilitas lapangan sepak bola, kolam renang, basket, tenis lapangan sekelas olimpiade dan bahkan lebih baik dari yang pernah ada dan tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana pemeliharaannya. Moril awak kapal perang memang harus terjaga dengan baik agar tugas yang diberikan dapat dilaksanakan dengan sempurna, untuk dapat mencapai itu diperlukan perawatan dan penyegaran yang baik dengan didukung fasilitas yang baik pula. Harapan kedepan sebaiknya mereka lebih memikirkan kepentingan para prajuritnya dengan membangun fasilitas-fasilitas dan sarana prasarana yang lengkap dibandingkan dengan membangun sebuah lapangan olah raga yang luas dan hanya dapat digunakan oleh segelintir orang saja.

Rabu, 28 November 2012

Pengembangan UAV

Salam Kebangsaan...
Wahana-wahana tanpa awak seperti UAVs (Unmanned Aerial Vehicles) saat ini merupakan primadona bagi negara-negara maju untuk mendukung kebutuhan militernya. Perusahaan besar perakit pesawat terbang milik Russia Sukhoi sampai tertarik untuk mengembangkan wahana tanpa awak untuk melengkapi jajaran sistem senjata modernya. Sudah ada 3 purwarupa yang akan diproduksi secara masal yang rencananya akan dilempar ke pasar dunia. Wahana tanpa awak memang memiliki keunggulan seabrek dibandingkan dengan wahana berawak namun banyak pula kelemahannya dibandingkan dengan wahana yang diawaki oleh seorang pilot tempur yang sangat terlatih. Kemampuan terbang sebuah wahana tanpa awak yang paling canggih saat ini yang dimiliki Amerika cukup beragam, sebut saja Global Hawk dengan metode HALE (High Altitude Long Endurance) mampu terbang secara nonstop selama 18 jam dengan kecepatan diatas mach 1dan ketinggian maksimum 45000 feet. Sukhoi akan membuat wahana dengan kemampuan yang lebih unggul dan mampu terbang dengan ketinggian maksimum 53000 feet. Kelebihan lainnya adalah mampu melaksanakan fungsi kendali udara, penyerbu otomatis dan pengintaian. Dihadapkan dengan rumitnya permasalahan di Selat Malaka dan pelanggaran perbatasan sangatlah masuk akal bila Angkatan Laut memiliki Squadron UAV yang digelar di titik tengah Selat Malaka dengan kelengkapan dan spesifikasi yang dibuat khusus untuk pengamatan dan bantuan serangan terbatas, tentunya lengkap dengan fasilitas pangkalan dan sumber daya manusianya. Diantara spesifikasi khusus yang harus dimiliki adalah mampu terbang rendah dan hover menyesuaikan dengan cepat kapal-kapal yang melintas dan mampu memberikan data real time. Dengan tergelarnya wahana tanpa awak di lintasan rawan seperti sepanjang ALKI dan perbatasan lainnya diharapkan dapat memberikan perlindungan maksimal bagi pengguna dari negara lain dan menekan pelanggaran batas wilayah sehingga daya tawar Indonesia di mata internasional semakin meningkat.

Selasa, 27 November 2012

Tahapan Yang Harus Dilewati

Salam Kebangsaan...
Kejadian yang menimpa calon sistem senjata Angkatan Laut beberapa waktu yang lalu hendaknya cukup memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kemajuan teknologi pengembangan sistem senjata di masa yang akan datang. Semua negara dengan Angkatan Laut yang maju pernah mengalami hal serupa bahkan lebih parah hingga jatuhnya korban, namun kita harus memberikan apresiasi kepada upaya untuk membuat sebuah perubahan di bidang pengembangan sebuah sistem senjata. Semasa perang dunia II negara besar Amerika pernah menguji kemampuan kendaraan tempur yang diciptakan untuk bergerak di darat namun harus mampu diluncurkan dari tengah laut oleh sebuah kapal perang untuk mendukung pendaratan di pantai Normandia. Tidak hanya sekali dua kali kegagalan yang memakan biaya riset cukup besar namun juga memakan korban yang tidak sedikit sampai akhirnya muncul pengembangan tank jenis 'double D' yang mampu menjawab kebutuhan kendaraan tempur pada saat itu. Amerika tidak sekonyong-konyong langsung sempurna dalam menciptakan sebuah rekayasa sistem senjata namun perlu uji coba dan pendalaman dengan biaya yang tidak sedikit. Untuk membuat kapal permukaan dengan spesifikasi khusus juga tidak langsung jadi, diperlukan uji fungsi material, ketahanan dan riset keadaan ekstrim lainnya dengan seabrek parameter dan puluhan tenaga ahli di bidangnya masing-masing. Pengembangan teknologi tidak semudah dengan apa yang dibayangkan oleh sebagian besar orang, perjalanan masih panjang dan dibutuhkan keterpaduan dari semua sumber sesuai dengan bidangnya masing-masing. Apa yang telah dilakukan sudah bagus dan sudah sangat tepat namun perlu kajian yang mendalam untuk menciptakan sebuah sistem senjata yang mendalam. Kejadian tersebut merupakan langkah lain yang harus dilalui untuk menuju pada kemandirian Alutsista dan pengembangan teknologi di masa yang akan datang, namun kita harus sadar bahwa penciptaan sebuah teknologi harus benar-benar memenuhi kaidah-kaidah ilmu yang telah diuji dan tidak diragukan lagi kebenaranya.

Senin, 03 September 2012

Lapak di Laut Hitam

Salam Kebangsaan...
Upaya Cina untuk membuka peluang bagi pengembangan produk untuk menguasai pasar dunia tampaknya akan menjadi tantangan baru yang menjanjikan banyak keuntungan. Hal ini diawali dengan kunjungan Gugus Tempur ke-11 Angkatan Laut Tentara Pembebasan Cina (People’s Liberation Army Navy) ke Laut Hitam pada akhir bulan Juli 2012 yang lalu. Semenjak dahulu Cina memang selalu memegang teguh tradisi yang diturunkan dari nenek-nenek moyangnya bahwa penguasaan dagang di seluruh dunia harus selaras dengan militer yang memiliki kemampuan untuk mengamankan jalur perdagangan. Bila kita melihat masa lalu bahwa Armada yang dipimpin oleh Laksamana ChengHo pada awal abad ke 15 pernah singgah di beberapa tempat di Indonesia untuk membukan hubungan dagang menggunakan 300 kapal perang dan kapal dagang dengan lebih dari 25.000 awak kapal, dapat dibayangkan berapa Gugus Tempur yang dikomandani olehnya. Potensi pasar di seputar Laut Hitam sangat besar dengan keberadaan negara-negara disekitarnya yang sebagian adalah pecahan dari Uni Sovyet. Cina tidak takut dengan kehadiran Armada Laut Hitam Russia yang memang sudah sangat lama mengendalikan Laut Hitam karena Cina sendiri tidak menganggap rival seperti negara besar selain Russia. Cina sangat gemar sekali untuk memperluas wilayah ‘dagang’nya dengan pendekatan yang agak sedikit nekat dan berani karena memang mereka suka berpetualang. Doltrin Angkatan Laut Cina untuk mengembangkan Global Sea Power nampaknya belum akan menimbulkan gesekan yang berpeluang untuk timbulnya konflik sejauh peran diplomasi yang dimainkan dapat diterima oleh negara berdomain laut lainnya. Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara yang paling dominan di Asia Tenggara harusnya dapat memainkan peran penting di kawasan Asia Tenggara khususnya di Selat Malaka dan ALKI yang telah ditetapkan. Penetatapn itu harus mampu mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kemajuan bangsa Indonesia.

Rabu, 15 Agustus 2012

Serangan Israel

Salam Kebangsaan...
Apa yang terjadi bila Israel dan Iran saling meluncurkan peluru kendali berhulu ledak nuklir yang mereka miliki? Tentunya akan terjadi perpecahan dan bibit Perang Dunia III bila mereka saling panas kepala dan tidak mau mengalah. Usaha Israel untuk menyerang ke Iran nampaknya harus ditunda dulu sehubungan dengan maklumat yang disampaikan oleh Amerika berisi tentang sangsi yang akan diterima bila itu terjadi. Israel semakin geram dengan Iran yang tidak takut ancaman dan masih melanjutkan pengayaan uranium untuk keperluan industri dan militernya. Ancaman Israel terhadap Iran semakin jelas dan menyebutkan bahwa fasilitas nuklir Iran sangat berbahaya dan dapat mengancam kehidupan orang banyak namun ancaman itu dijawab oleh Iran dengan menyiagakan divisi strategiknya yang dilengkapi dengan rudal Sahab-3, Ghadr-110 dan rudal Fateh-110 yang dikalim dapat menghajar pemukiman Israel di jalur Gaza dari Teheran Iran. Persiapan Israel untuk menghajar Iran harus kandas setelah Amerika tidak memberikan ijin untuk belanja aerial tankers untuk kebutuhan pesawat-pesawat tempurnya dan munisi untuk pasukan daratnya. Dari situasi ini dapat dipetik pelajaran bahwa penyiapan sebuah serangan harus benar-benar dihitung dengan cermat kebutuhan, prosetasi kemenagnan dan dianalisa dampaknya bagi perkembangan kawasan tersebut dan bagaimana pengaruh sebuah negara yang memiliki teknologi nuklir dapat memberikan efek yang sangat signifikan. Nampaknya Indonesia harus belajar dari Iran bagaimana agar mampu membuat senjata nuklir untuk kepentingan pertahanan dan belajar dari Israel bagaimana agar mampu membuat negara besar menjadi wasit yang pasif.

Rabu, 01 Agustus 2012

Kehadiran Angkatan Laut Russia

Salam Kebangsaan...
Rencana Russia untuk membangun Pangkalan Angkatan Laut di luar wilayah kedaulatan Russia nampaknya semakin terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi meskipun dibantah oleh pihak pemerintah. Beberapa negara yang berpotensi menjadi Pangkalan Angkatan Laut di luar Russia adalah Vietnam yang akan menyusul Cuba dan Republik Syclles sebuah negara kepualauan di Samudera Hindia sebelah utara Madagaskar heading 090 dari Kenya. Tentunya ada berbagai macam pertimbangan mengapa dipilih Vietnam sebagai calon kuat Pangkalan Angkatan Laut-nya. Dapat dipahami bahwa Vietnam merupakan pengguna produk terbesar dan setia Russia sejak Sovyet bersatu termasuk kapal selam berpenggerak diesel elektrik kelas Kilo di kawasan Asia Tenggara. Yang paling mendasar adalah Russia ingin lebih eksis di kawasan perairan Asia khususnya Laut Cina Selatan yang mengandung potensi sumber daya alam melimpah. Ini bukan peningkatan ketegangan namun lebih kepada mempertahankan pengaruh ‘berkawan’ atas kehadiran Amerika yang agak sering disana. Indonesia harus memandang hal ini sebagai hal yang positif dan harus dapat mengambil keuntungan dari kehadiran Angkatan Laut Russia di Vietnam. Sebagai pengguna produk Russia nampaknya Vietnam tidak keberatan untuk menerima tawaran kerja sama alih teknologi di bidang militer. Tidak ada larangan bagi negara manapun di seluruh dunia untuk berkawan dengan negara lain sejauh sama-sama menguntungkan. Kehadiran negara besar di Asia bukan ancaman bila kita dapat mengubah perspektif dan cara pandang kita terhadap kawan dan lawan.

Selasa, 01 Mei 2012

Bahasa Komunikasi

Salam Kebangsaan...
Sebuah pepatah militer mengatakan bahwa komunikasi merupakan urat nadi pertempuran dan tanpa komunikasi yang baik akan sulit untuk memenangkan suatu pertempuran atau peperangan dengan gemilang. Komunikasi memang memegang peranan penting dalam sebuah operasi militer yang dilaksanakan di semua tempat sehingga tanpa didukung dengan komunikasi yang baik maka dapat dipastikan operasi tidak akan berjalan sesuai dengan rencana namun bukan berarti kalah. Dukungan komunikasi yang baik juga harus didukung dengan kemampuan sumber daya manusia-nya juga karena tanpa sumber daya manusia yang baik secanggih apapun komunikasi yang digunakan akan sia-sia. Angkatan Perang dengan peralatan yang modern akan membutuhkan komunikasi antar awak untuk mencapai tujuan dalam sebuah operasi. Contohnya komunikasi taktis yang dilakukan antar pilot pesawat tempur dengan pangkalan atau komunikasi yang dilaksanakan oleh formasi kapal permukaan dalam sebuah Gugus Tempur ada kalanya menggunakan bahasa komunikasi yang diadopsi dari negara tertentu seperti Amerika dan sekutunya (NATO) yang selama ini menggunakan prosedur komunikasi ATP (Allied Tactical Procedure). Hal ini sangat baik terutama bagi perwira atas air untuk memahami bahasa komunikasi yang berlaku bagi seluruh kapal perang di jajaran sekutu seluruh dunia. Namun ada kelemahannya juga karena bahasa yang digunakan tidak pernah dimutakhirkan dan rawan sekali bila diserap oleh lawan serta tidak usah pusing menterjemahkan karena menggunakan bahasa Inggris. Beberapa pemikiran maju telah dilakukan untuk mengubah bahasa komunikasi dari Inggris menjadi bahasa yang hanya dimengerti oleh unsur-unsur Gugus Tempur itu sendiri namun manuver taktisnya yang belum banyak mengalami perubahan. Upaya ini adalah upaya positif yang perlu dikembangkan mengingat kemampuan komunikasi elektronika dan sumber daya manusia yang terbatas. Harapan kedepan Angkatan Perang kita lebih mampu mengupayakan pengadaan material peperangan elektronika yang modern dan canggih sebagai pelindungnya bahasa komunikasi yang sangat rentan tadi dan terintegrasi dengan baik sehingga 'urat nadi' tersebut tidak mudah robek atau tersentuh sekali pun oleh negara lain. Betapa perkasanya sebuah Angkatan Perang dengan sumber daya manusia yang terlatih dan didukung dengan peralatan yang modern nan canggih. Untuk mencapai tujuan itu tentunya diperlukan perjuangan dan dukungan dari semua komponen dengan visi dan misi serta kemampuan yang terukur.

Senin, 09 April 2012

Sejarah Bangsa Sendiri

Salam Kebangsaan...
Akhir-akhir ini dunia perfilman Indonesia diramaikan dengan hadirnya film-film nasional yang bertemakan tentang perjuangan di tahun 1945 yang dibumbui cerita percintaan seputar anak muda dan pengaruhnya dengan lingkungan pada masa itu. Hal ini merupakan fenomena yang menarik karena telah beberapa lama film yang bertema tentang perjuangan tidak diproduksi karena tidak dapat memberikan keuntungan yang signifikan di industri perfilman Indonesia. Bangkitnya industri film Indonesia khususnya yang menceritakan tentang heroisme para pendahulu di masa perjuangan patut mendapatkan penghargaan sebagai langkah nyata untuk menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap bangsanya sendiri. Namun sayangnya film-film ini belum mendapatkan tempat yang layak di hati para penonton layar lebar yang cenderung menikmati film produksi dari negara lain yang lebih menarik dan seru dilihat. Bahkan yang pernah saya alami di suatu tempat nonton terkenal ibukota hanya satu dua penonton saja yang rela beli karcis untuk nonton film perjuangan Indonesia dan ironisnya justru ramai ketika film yang diputar bertema action mandarin atau fiction non ilmiah yang bahasanya sangat sulit untuk dipahami. Pertanyaannya adalah sudah sampai tahap seperti itukah penghargaan kita terhadap karya bangsa sendiri sehingga tidak lagi menghargai karya sendiri? atau justru sebaliknya, para produser dan sutradara sudah tidak lagi mampu menghasilkan film yang berkualitas sebagai sarana untuk meningkatkan 'kebanggaan' terhadap bangsa sendiri? Film atau gambar bergerak bersuara merupakan sarana yang paling ampuh sebagai media 'propaganda' negara untuk mengajak rakyatnya ke arah yang telah ditentukan dengan menyelaraskan pola pikir, pola tindak dan pola sikap sebagai bangsa yang lebih unggul. di negara-negara maju film sudah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dan merupakan tanggung jawab pemerintah untuk mencerdaskan dan memajukan bangsanya. Apalagi film perjuangan yang notabene merupakan ungkapan sejarah di masa lalu yang dapat dijadikan panutan bagi generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. Bangsa ini telah melalui berbagai macam perjuangan dan pengorbanan untuk dapat meraih kemerdekaan yang dirasakan pada hari ini, tentunya banyak pula kisah-kisah heroik dan patriotik yang dapat dijadikan teladan bagi generasi muda. Sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian lebih dalam mengangkat kisah tersebut ke dalam layar lebar. Kita punya banyak sutradara kaliber dunia yang mampu membuat film seperti itu. Bila ada kemauan dari pemerintah tentunya sangat mudah mewujudkan hal tersebut. Sudah banyak pekerja industri perfilman yang mengenyam pendidikan di luar negeri dan bila keahlian mereka dihargai tentunya keinginan untuk mewujudkan hal tersebut dapat tercapai. Dengan mengeluarkan 'sedikit' anggaran yang diambil dari keuangan negara saja sebenarnya sudah cukup untuk menjawab permasalahan itu dan memang harus ada political will yang jelas. Tidak susah untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan duduk bersama dan saling bicara menggunakan hati yang jernih. Kita masih punya ribuan bahkan jutaan kisah heroik dan patriotik yang tak kalah serunya dengan kisah di dalam film mereka.

Jumat, 06 April 2012

Nasionalisme

Salam Kebangsaan...
Nasionalisme adalah sebuah kata yang sering didengar dan diucapkan namun belum tentu dapat melaksanakan sesuai dengan makna yang dimaksud. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti kata 'nasionalisme' adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsanya sendiri, kesadaran keanggotaan suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa itu dalam semangat kebangsaan. Pertanyaannya adalah sampai sejauh mana nasionalisme masyarakat Indonesia dalam menghargai karya bangsanya sendiri dan apakah nasionalisme itu dapat diukur dengan membeli barang atau peralatan yang diproduksi oleh negaranya sendiri? Ketika Bangsa Indonesia dilecehkan oleh negara tetangga dengan membajak salah satu karya warisan leluhur tanpa diperintah seluruh orang mengecam dan bahkan membuka pendaftaran untuk pergi perang dengan negara tersebut. Namun ketika wilayah kedaulatan kita terusik dan dibuat mainan oleh negara lain maka hanya segelintir orang saja yang menyuarakan bahwa Alutsista Angkatan Perang kita sudah banyak yang rusak dan tidak dilengkapi dengan senjata yang mutakhir, lalu kemanakah sebagian besar masyarakat yang ingin ikut perang tadi? Hal ini seharusnya tidak terjadi manakala bangsa ini konsisten terhadap pembangunan Angkatan Perangnya yang jauh tertinggal secara kualitas dan kuantitas dengan negara tetangga. Komitmen ini tidak boleh diselewengkan sehingga yang terjadi adalah Parlemen yang merupakan wakil rakyat justru mempertanyakan kenapa Alutsista ini dibeli dari negara ini dan itu dan mereka cenderung untuk membelokkan ke negara lainnya karena 'sesuatu' hal yang tidak bisa dijelaskan. Ini jelas sangat merugikan bagi si pengguna karena secara perhitungan justru si penggunalah yang betul-betul tau bagaimana efek tangkalnya bila peralatan tersebut dapat digunakan oleh Angkatan Perang negara ini. Harapan kedepan adalah marilah duduk bersama dan bicara dengan kepala dingin sehingga dapat menghasilkan sebuah keputusan yang dapat dijalankan secara sinergi. Bukankah nasionalisme dapat tumbuh ketika kita sudah saling sepaham dan sejalan? Mari kita renungkan bersama.

Kamis, 05 April 2012

Berlatih Kalah

Salam Kebangsaan...
Tujuan Latihan secara umum adalah menguji sampai sejauh mana tingkat kesiapsiagaan tempur prajurit dan peralatan yang digunakan dari mulai perorangan sampai tingkat lanjutan dalam satu sistem senjata yang besar sehingga benar-benar mampu dan layak untuk dioperasikan secara bertingkat bertahap dan berlanjut. Latihan yang dilaksanakan selama ini lebih bersifat normatif dan cenderung monoton sehingga mudah ditebak tahapan-tahapan latihannya dari sejak perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga tahap pengakhiran. Ujung-ujunganya adalah kemenangan mutlak tanpa tandingan oleh pihak pelaku latihan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi dalam perang yang sesungguhnya tanpa menghitung jatuhnya korban dan kerugian yang diderita oleh warga masyarakat disekitarnya bila ini benar-benar terjadi. Belum pernah ada gagasan latihan dalam skala besar yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan hal terpenting disini adalah bagaimana tindakan Angkatan Perang dan negara ketika kalah dalam melakukan perang yang sesungguhnya. Latihan-latihan puncak yang dilaksanakan selama ini fine-fine aja artinya pastilah penyelenggara yang menang dan tidak pernah dilatihkan keadaan khusus atau situasi khusus ketika setengah dari kekuatan Armada Kapal Perang kita habis, setengah dari kekuatan Infantri kita habis atau 3 Skuadron Buru Sergap kita dihancurkan oleh negara lawan. Negara-negara maju sudah memberikan banyak contoh kepada kita mengenai hal tersebut, mereka menyadari bahwa perang itu bukan saja membawa petaka bagi tentaranya namun juga membawa kerugian bagi warga masyarakat disekitarnya. Lalu apa yang mereka perbuat? Dalam sebuah serial latihan yang pernah dilaksanakan oleh Amerika mereka melatihkan bagaimana kesiapsiagaan Angkatan Perangnya untuk memindahkan masyarakat yang tempatnya dianggap akan berdampak karena perang tersebut. Mereka juga melatihkan bagaimana bila separuh dari peralatan militernya lumpuh tidak dapat digunakan karena kemampuan lawan yang lebih, dan mereka juga melatihkan bagaimana bila setengah dari kekuatan tentaranya kalah dan tidak mampu merebut keunggulan di darat, laut, udara dan dimensi lainnya. Hal ini sangat menarik dan keadaan seperti itu dapat terjadi pada semua Angkatan Perang. Ada satu sisi positif yang kita dapatkan dengan melatih keadaan tersebut yaitu keterpaduan dan kerjasama dengan komponen lainnya. Harapan kedepan adalah terwujudnya konsep latihan yang dapat memadukan antara sipil dan militer sehingga asumsi-asumsi ancaman yang datang dari luar dapat diperkecil peluangnya.

Rabu, 04 April 2012

Kendaraan Taktis

Salam Kebangsaan...
Dalam sejarah perkembangan militer di dunia keunggulan dalam menempatkan pasukan, kecepatan mendistribusikan logistik dan rentang kendali yang singkat merupakan satu aspek penting dalam memenangkan sebuah pertempuran. Mobilitas pasukan harus didukung dengan sarana yang memadai sehingga titik-titik strategis dapat direbut dengan cepat sebagai tumpuan penentu untuk melanjutkan operasi berikutnya. Untuk mendukung mobilitas yang tinggi diperlukan kendaraan yang mampu bergerak cepat di semua medan dengan ketahanan yang tangguh. Negara-negara maju di Amerika, Eropa dan sebagian besar Asia telah mengembangkan kendaraan taktis untuk kebutuhan pasukan-pasukannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang berbeda. Sebagai contoh Korea Selatan yang telah mengembangkan kendaraan taktis untuk komando (fungsi kendali) yang dilengkapi dengan peralatan kendali dan komunikasi sampai kendaraan berat untuk angkut kendaraan tempur lainnya. Awalnya penciptaan kendaraan taktis itu memang tidak sempurna namun setelah beberapa lama digunakan oleh Angkatan Perangnya diadakan evaluasi dan perubahan sehingga lama kelamaan berubah wujud menjadi lebih baik dalam beragam varian. Hal ini sangat menguntungkan bagi Angkatan Perang yang terus didukung oleh kendaraan baru dan bagi Industri Pertahanan yang dapat bersaing dengan negara lainnya. Bagaimana dengan Indonesia? ada beberapa prototipe (purwarupa) yang akan menjadi cikal bakal kendaraan taktis Indonesia dan sebaiknya ini harus dipandang positif karena butuh penyempurnaan dan riset yang lebih mendalam. Untuk membuat kendaraan sekelas Humvee milik Amerika memang dibutuhkan waktu dan pengalaman yang tidak sedikit. Banyak ahli otomotif dan rancang bangun kendaraan di Indonesia dan tinggal memadukan saja. Harapan kedepan TNI tidak lagi menggunakan kendaraan taktis yang kuno dan tidak sesuai lagi dengan iklim di Indonesia sehingga keunggulan di medan laga dapat dicapai dengan gemilang. Namun sampai sejauh mana komitmen para penyelenggara negara untuk mau membesarkan Tentaranya? Tentunya ini menjadi bahan pemikiran kita bersama.

Selasa, 03 April 2012

BKR Laut Pusat 1945

Salam Kebangsaan...
Dari sebuah literatur lama mengenai perjuangan diawal kemerdekaan yang saya baca ternyata ada satu hal menarik yang belum banyak diketahui oleh banyak orang. BKR (Badan Keamanan Rakyat) Laut Pusat pernah bermarkas dan berkantor di Jalan Budi Utomo Jakarta Pusat setelah Republik Indonesia resmi diproklamasikan. Mengutip sebuah paragraf yang terdapat dalam buku tersebut sebagai berikut ; Begitu BKR dibentuk dengan persenjataan yang sederhana langsung diterjunkan kedalam pertempuran-pertempuran sehingga Badan Keamanan ini berangsur-angsur berubah bentuknya menjadi tentara yang bersenjatakan brengun, stengun, tommygun dan senjata modern lainnya hasil rampasan. Sebelum tanggal 10 September 1945 belum terdapat pemisahan nama BKR Darat dan BKR Laut yang ada hanya satu BKR. Pada tanggal 10 September 1945 berdiri BKR Laut di Jakarta sebagai BKR Laut Pusat dengan Markas Besarnya yang menempati sebuah gedung di Jalan Budi Utomo Jakarta Pusat yang sekarang menjadi bangunan gedung SMP Negeri II Jakarta. Kemudian BKR Laut berubah menjadi TKR Laut sampai menjadi ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) dan semua perubahan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat juga diikuti oleh BKR Laut yang terdapat di semua pelabuhan di seluruh Indonesia. Yang ingin disampaikan disini adalah bahwa TNI AL (nama sekarang) pernah berkantor di sebuah gedung yang berada di Jalan Budi Utomo Jakarta Pusat namun bila kita berkunjung kesana tak ada tanda-tanda bahwa gedung itu pernah menjadi kantor para Petinggi Angkatan Laut ketika itu. Sejarah tidak boleh dihilangkan dan sudah selayaknya ada pemikiran dari TNI AL untuk membuat sebuah penanda agar generasi penerus TNI AL pada khususnya dan masyarakat pada umumnya mengerti bahwa bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Senin, 02 April 2012

Lumbung Ikan

Salam Kebangsaan...
Dalam strategi perang yang masih digunakan ada beberpa titik logistik wilayah yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh komponen bila keadaan memaksa dan harus melakukan hal itu yaitu  lumbung padi di pulau Jawa. Ketika logistik reguler sudah tidak dapat mendukung secara normal maka titik-titik logistik yang sudah disiapkan dan dipetakan dapat didayagunakan dengan maksimal. Bagaimana dengan strategi petahanan laut? Ada beberapa perairan yang digunakan sebagai lumbung ikan sebagai cadangan logistik bila terjadi perang, mulai dari perairan di sebelah barat sampai di perairan sebelah timur. Konsep lumbung ikan terdengar seperti aneh namun bila itu benar-benar terjadi banyak manfaat yang dapat diambil. Bukan hanya militer saja yang harus mengerti mengenai konsep ini namun masyarakat juga harus memahami agar dapat dipelihara keberadaannnya. Pemanfaatan sumber daya nasional bila dilaksanakan secara total tentunya akan memberikan dampak yang positif bagi seluruh komponen bangsa. Kedepan akan ada lebih banyak lumbung-lumbung lainnya untuk kepentingan pertahanan negara.

Minggu, 01 April 2012

Pembatasan Energi

Salam Kebangsaan...
Sumber energi merupakan substansi mutlak yang diperlukan oleh negara untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyaknya. Kelangkaan energi memaksa negara untuk mencari sumber energi lain dan menekan penggunaan energi semaksimal mungkin. Alternatif energi yang belum dicoba oleh Indonesia adalah energi tenaga nuklir yang telah digunakan oleh negara-negara maju lebih dulu. Beberapa waktu yang lalu sempat digulirkan rencana pembangunan pusat listrik tenaga nuklir di pulau Jawa namun entah kenapa rencana itu kandas lagi. Penggunaan tenaga nuklik sebagai alternatif pilihan sumber energi merupakan pilihan yang tepat karena banyak pertimbangan yang menguntungkan dibandingkan dengan ruginya. Penerapan sebuah sistem yang baru tentu saja ada resiko yang harus diperhatikan dengan catatan dapat terjadi bila tidak memenuhi mekanisme operasional. Jadi alternatif pilihan tenaga nuklir sudah merupakan pilihan yang tepat untuk mengatasi kelangkaan energi dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sabtu, 31 Maret 2012

Peluncuran Roket Korut

Salam Kebangsaan...
Dalam rangka memperingatri 100 tahun kelahiran pemimpin besar sekaligus dewa Korea Utara Kil Il Sung pada pertengahan bulan April 2012 yang akan datang Korut bermaksud untuk meluncurkan roket bermuatan satelit ke orbit mereka. Hal ini ditanggapi agak cemas oleh negara-negara kawasan Asia terutama Korea Selatan dan Jepang. Sampai khawatirnya dengan info peluncuran itu mereka menyiagakan angkatan perangnya untuk berjaga kalau-kalau alat peluncurnya tidak sampai ke orbit. Beberapa baterai anti rudal disiapkan untuk tindakan preventif dan rencana daruratnya. Bagaimana dengan Indonesia? Pendekatan secara sejarah Indonesia tidak pernah beradu otot dengan negara anggrek merah itu karena memang tidak pernah menyatakan perang, justru punya hubungan baik di era penguasa orde lama. Atas dasar penilaian itu sebaiknya tidak seharusnya Indonesia cemas dan mengambil tindakan yang justru membuat peluang untuk membuat panas di antara negara-negara kawasan. Sebaliknya menghargai kedaulatan bangsa serta segala kemampuannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi-lah yang harus dijunjung tinggi.

Jumat, 30 Maret 2012

Mengingkari Kodrat

Salam Kebangsaan...
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan perairan luas yang ditaburi belasan ribu pulau besar dan kecil serta keanekaragaman sumber daya alam yang tersembunyi dibalik keindahannya. Namun sangat ironis sekali ketika kita mengetahui bahwa masyarakat yang hidupnya dari laut justru hidup dibawah garis kemiskinan. Kondisi ini diperparah dengan ketidakjelasan arah peningkatan taraf hidup masyarakat yang tinggal di pesisir pantai lebih lagi bagi mereka yang tinggal di pulau-pulau terluar yang sarat potensi namun tak berdaya. Di belahan dunia lain bangsa yang pintar memanfaatkan sisi maritim sudah tentu maju dan tingkat hidup masyarakatnya diatas rata-rata. Potensi-potensi kelautan yang belum terolah nampaknya tidak membuat para pemikir negara ini untuk berkeinginan mengolah dan memanfaatkan sebagai satu peluang pencapaian yang positif. Untuk menuju pada label bangsa maritim nampaknya masih butuh kemauan yang dalam dan kesadaran bukan hanya dari masyarakat saja namun yang terpenting adalah para pemikir yang terhormat lebih dulu.

Kamis, 29 Maret 2012

Kunjungan Kehormatan

Salam Kebangsaan...
Akhir-akhir ini institusi militer Indonesia banyak menerima kunjungan kehormatan dari perwakilan militer negara asing baik dari negara-negara Eropa, Asia dan negara super power Amerika. Kunjungan kehormatan dalam sejarah angkatan laut merupakan suatu tradisi dimana sang tamu menunjukkan itikad dan niat baiknya untuk 'berteman' setelah itu ada sesuatu yang akan disampaikan berkaitan dengan kepentingan sang tamu. Negara harus jeli melihat tren seperti ini dan tentunya kunjungan mereka memiliki maksud yang tidak mungkin disampaikan kepada tuan rumahnya. Peningkatan belanja pertahanan dengan pembelian sistem senjata yang dilakukan oleh negara tentunya menjadi alasan mengapa banyak tamu singgah di negara ini. Mereka cukup paham bahwa ini merupakan peluang bisnis yang nyata bagi sang tamu untuk menawarkan produk pertahanan dalam jumlah besar yang tentunya sangat menguntungkan. Di negara-negara maju militer dekat sekali dengan kemajuan perekonomian negara dan kedua elemen itu tentunya saling mendukung dan melengkapi. Kapal perang lengkap dengan peralatan dan alutsistanya on-board datang memamerkan kecanggihan teknologi dan menawarkan dengan sistem pembelian yang tidak rumit antara government to government. Tentu saja sang tuan rumah yang punya anggaran tidak akan melewatkan budi baik sang tamu yang menawarkan produknya langsung datang ke 'rumah'. Pola ini biasanya efektif dan lebih banyak berhasilnya sama seperti yang Indonesia lakukan ketika menawarkan kapal cepat, panser dan senjata ringan ke negara tetangga. Kesimpulannya kunjungan seperti apapun pasti akan diselipi dengan penawaran produk andalan atau penawaran kemudahan apapun demi kepentingan sang tamu, sebaliknya kita harus jeli dengan bijak dapat melihat apa kepentingan kita di negara mereka yang belum terselesaikan. 

Rabu, 28 Maret 2012

Anoa

Salam Kebangsaan...
Anoa adalah hewan mamalia yang hidup di darat mirip kerbau dan merupakan hewan khas Sulawesi yang hidup di hutan-hutan dan terancam punah karena populasinya semakin menipis. Pada akhir tahun 2006 Indonesia memperkenalkan produk kendaraan tempur lapis baja jenis angkut personil sedang asli buatan dalam negeri tapi belum memiliki nama. Dalam sebuah acara pameran peralatan perang berskala international yang digelar di Jakarta pada bulan Oktober tahun 2008 wakil presiden Jusuf Kalla sempat membuka kegiatan acara itu dan sekaligus meresmikan kendaraan tempur yang baru dibeli untuk Angktan Darat. Seluruh pejabat hadir ketika itu dan bapak JK kemudian memberikan nama 'Anoa' pada kendaraan tempur itu. Para undangan sempat terperangah mengapa pak JK memberikan nama itu kepada kendaraan tempur kebanggaan indoensia. Lalu dengan nada ramah pak JK menawarkan kepada penonton andai-andai saja ada satu kelompok kecil pasukan khusus gabungan yang paling hebat dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara dengan beramai-ramai mampu menangkap hewan khas sulawesi yang lincah ini. Pak JK bilang pasti tidak akan ada yang bisa mengejar dan menangkap hewan liar yang mirip kerbau itu. Lalu para undangan baru mengerti mengapa pak JK memberikan nama itu kepada kendaraan tempur itu dengan harapan dapat mengambil makna yang terkandung dari nama itu. Saat ini anoa semakin dikembangkan dari satu varian menjadi beberapa varian dan sistem senjata yang beragam sesuai dengan kebutuhan. Itulah sekelumit cerita dibalik penamaan sebuah kendaraan tempur yang ternyata tidak perlu kajian mendalam untuk memberikan nama yang pas dan mudah diingat. Setidaknya nama itu masih mewakili nama asli bangsa Indonesia dan bukan saduran dari nama sebuah sistem senjata yang digunakan negara lain.

Selasa, 27 Maret 2012

Sejahtera di Selat Malaka

Salam Kebangsaan...
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Indonesia dengan letak geografis yang strategis diantara dua benua besar dan dua samudera luas serta jalur lintas perdagangan dunia dari samudera hindia menuju laut cina selatan. Kondisi geografis ini yang membuat Indonesia menjadi makmur apabila dapat memanfaatkan peluang dan kesempatan bila dikelola dengan baik dan benar. Selat malaka yang berada di pantai timur pulau sumatera dan sebelah barat semenanjung malaysia merupakan selat tersibuk di dunia dengan lalu lintas kapal yang padat dari dan menuju laut cina selatan. Tercatat tidak kurang dari 200 kapal berbagai jenis yang melintas perhari atau rata-rata 50.000 kapal melintas di selat terpadat dunia pertahunnya. Dengan adanya selat malaka negara harus mampu melihat peluang dari kondisi yang ada untuk kesejahteraan negara yang langsung berimbas pada perekonomian bangsa. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia sudah selayaknya Indonesia punya fasilitas labuh international dengan kelayakan dan kenyamanan berkelas. Bila pemerintah mau berbuat sedikit maka banyak yang dapat dikelola dengan hasil ribuan dolar sehari dan dapat masuk ke kas negara dengan memanfaatkan jasa dan pelayanan bagi 'bulk carrier' yang melintas tiap hari.