Tampilkan postingan dengan label pembajakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembajakan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2012

Selat Malaka

Salam Kebangsaan...
Selat Malaka masih menjadi bahasan yang menarik dan diperbincangkan banyak orang karena dinamikanya yang tinggi namun hanya sebatas pembicaraan saja belum pada pengelolaan yang maksimal. Pembajakan dan perompakan selalu menjadi bahasan dan selalu dikait-kaitkan dengan kesalahan Indonesia yang menurutnya tidak cakap untuk mengamankan selat malaka. Ada beberapa organisasi maritim dunia yang berhak mengeluarkan pernyataan mengenai keamanan perairan di seluruh dunia dan pernyataan ini digunakan pelaut di seluruh dunia sebagai panduan pelayaran. Kejadian di selat malaka pada umumnya seperti kejadian normal di selat-selat seluruh dunia yang padat dan uniknya selat malaka juga merupakan perlintasan perahu tradisional milik masyarakat yang memang hidup dari laut dan tentu saja lebih banyak menggunakan lautan sebagai 'rumahnya'. Setiap kapal dagang (merchant ship) yang melintasi selat malaka menuju laut cina selatan berhak untuk memberikan laporan kepada organisasi maritim dunia mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan navigasi. Laporan itu di-filter dulu di Singapura setelah itu baru diteruskan ke organisasi maritim dunia. Pertanyaannya apakah betul memang terjadi pembajakan atau perompakan di selat malaka seperti laporan yang diterbitkan? laporan yang masuk ke Singapura adalah laporan mentah yang belum tentu kebenarannya dapat di buktikan dan tidak semua awak kapal mempunyai pemahaman yang sama apa itu pembajakan dan perompakan. Perahu tradisional yang melintasi malam hari dengan kecepatan tinggi itu sudah dapat dilaporkan sebagai ancaman pembajakan dan bodohnya laporan itu diterima Singapura mentah-mentah lalu di-forward ke Indonesia dan kejadian itu selalu terulang. Tentu saja hal ini sangat merugikan bagi Indonesia karena selalu saja asumsi pelaku pembajakan dan perompakan itu dari Indonesia padahal kenyataanya tidak demikian. Lebih mengecewakan lagi pejabat di Indonesia meng-iyakan bila menerima laporan dari Singapura seolah-olah itu 'sudah biasa'. Inilah stempel yang selama ini melekat di selat malaka karena tingginya tingkat pembajakan dan perompakan dan Indonesia pastinya lebih dirugikan karena laporan ini. Singapura seharusnya lebih bijak lagi dalam menerima laporan dari pengguna jasa selat malaka dan tidak seharusnya merugikan pihak lain yang tentu saja selalu menguntungkan Singapura. Pun dengan pejabat di Indonesia sebaiknya tidak serta merta menerima dengan mentah-mentah laporan dari Singapura. Tingginya angka pembajakan dan perompakan yang diterbitkan oleh organisasi maritim dunia perbulan bisa jadi karena keteledoran dan ketidakjelian kita yang selalu saja dapat menerima dengan tanpa bantahan kalo itu memang benar terjadi tanpa pembuktian yang nyata. 

Jumat, 24 Februari 2012

Skenario Terburuk 'Sinar Kudus'

Salam Kebangsaan...
Peristiwa operasi pembebasan MV Sinar Kudus berbendera Indonesia yang dibajak oleh sempalan pemberontak bersenjata Somalia di laut Arab pada bulan Maret 2011 yang lalu banyak memberikan lesson learned yang sangat berharga. Beberapa minggu setelah kejadian itu Pemerintah segera mengirim Satuan Tugas Angkatan Laut dengan kamuflase muhibah / kunjungan luar negeri yang terdiri dari unsur Kapal Perang Republik Indonesia lengkap dengan helikopter dan Pasukan Khususnya dengan tugas pokok membawa pulang 'Awak Sinar Kudus" dengan selamat apapun resikonya. Ada beberapa Course of Action atau skenario cara bertindak yang disiapkan untuk membebaskan awak Sinar kudus dengan keuntungan dan kerugian pada masing-masing cara. Dengan informasi data yang sangat sedikit sekali dan meraba-raba membuat jalannya operasi terasa sangat sulit sekali dan penuh tantangan. Jangan kan untuk menyerbu ke dalam kapal, menemukan lokasi Sinar Kudus saja ibarat mencari sebuah mobil kijang di parkiran Bandara Soekarno Hatta yang padat. Namun tidak seperti di darat, di laut tidak ada jalan aspal, lampu merah, petunjuk arah dan gedung-gedung tinggi yang bisa digunakan sebagai tanda pengenal dominan. Tidak ada koordinat yang tepat dari Global Positioning System hanya berdasarkan pada perkiraan hasil pembicaraan dengan awak Sinar Kudus melalui telephone satelit. Cara bertindak terakhir yang paling kontroversial setelah target ditemukan adalah 'menabrakkan dua kapal perang van speijk di lambung kanan dan kiri dengan serbuan puluhan Pasukan Khusus dan puluhan prajurit Kapal Perang'. Mengapa skenario ini dijadikan sebagai salah satu pilihan saat itu? yang paling utama adalah tidak ada informasi yang akurat mengenai kekuatan pembajak yang berada di atas kapal, berapa jumlahnya, apa jenis senjatanya, bagaimana morilnya, latar belakang mereka dan lain sebagainya. Hanya satu yang diketahui mengenai gambaran pembajak Somalia, mereka cukup militan seperti di film-film Hollywood yang mengandaskan Pasukan Khusus Amerika dengan cara brutal. Dapat dibayangkan bila skenario itu menjadi pilihan terbaik dan tidak ada pilihan lainnya, tentunya akan banyak jatuh korban dan kerugian lainnya. Sinar Kudus banyak memberikan pelajaran untuk kebaikan di masa yang akan datang. Sudah saatnya para stake holder di Republik ini duduk bersama dengan komponen pelaku bisnis demi kepentingan nasional.