Salah satu hal penting yang paling sering terjadi di setiap jajaran manapun berkaitan dengan sistem senjata baru dan fasilitas pendukungnya adalah tidak terpelihara dengan baik kemampuan sumber daya manusia yang digunakan untuk mengoperasikan sistem senjata tersebut. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi bila pengawakan tidak dapat beroperasi dengan optimal, tinggal menunggu kapan waktunya menuju kerusakan. Radar pantai yang tergelar di sepanjang Selat Malaka bantuan dari Amerika yang jumlahnya lumayan banyak dan bila dioperasikan dengan baik dan benar akan menghasilkan output yang maksimal dan jelas menguntungkan bagi instansi yang memiliki kepentingan. Permasalahan adalah apakah sumber daya manusia yang mengawaki perangkat sistem senjata itu sudah dapat bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan? Tentunya kita semua berharap bahwa mereka dapat memberikan data yang lengkap dan keberadaan mereka dapat memberikan keuntungan bagi para pelintas di Selat Malaka. Layaknya sebuah pengendali lalu lintas udara meskipun mereka bukan bekerja untuk itu harus dapat mengenali, memberikan informasi yang tepat dan memadukan dengan kepentingan lainnya. Tujuan Amerika memberikan bantuan sistem senjata itu adalah untuk menekan grafik kejahatan lintas negara di sepanjang Selat Malaka. Apakah mereka sudah dibekali dengan pengetahuan itu dan apakah mereka sudah diberikan 'bayaran' yang layak di luar tugas rutin mereka? Tentunya pihak yang berkepentingan harus lebih jeli untuk memikirkan hal tersebut dengan meningkatkan kemampuan personil pengawak dan harus ada penghargaan yang sesuai sehingga mereka bukan menjadi sekedar penjaga barang baru tapi tidak tau bagaimana harus mendapatkan sesuatu yang bermanfaat untuk kepentingan pertahanan dari barang tersebut.
Tampilkan postingan dengan label Selat Malaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selat Malaka. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Februari 2013
Selasa, 27 Maret 2012
Sejahtera di Selat Malaka
Salam Kebangsaan...
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Indonesia dengan letak geografis yang strategis diantara dua benua besar dan dua samudera luas serta jalur lintas perdagangan dunia dari samudera hindia menuju laut cina selatan. Kondisi geografis ini yang membuat Indonesia menjadi makmur apabila dapat memanfaatkan peluang dan kesempatan bila dikelola dengan baik dan benar. Selat malaka yang berada di pantai timur pulau sumatera dan sebelah barat semenanjung malaysia merupakan selat tersibuk di dunia dengan lalu lintas kapal yang padat dari dan menuju laut cina selatan. Tercatat tidak kurang dari 200 kapal berbagai jenis yang melintas perhari atau rata-rata 50.000 kapal melintas di selat terpadat dunia pertahunnya. Dengan adanya selat malaka negara harus mampu melihat peluang dari kondisi yang ada untuk kesejahteraan negara yang langsung berimbas pada perekonomian bangsa. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia sudah selayaknya Indonesia punya fasilitas labuh international dengan kelayakan dan kenyamanan berkelas. Bila pemerintah mau berbuat sedikit maka banyak yang dapat dikelola dengan hasil ribuan dolar sehari dan dapat masuk ke kas negara dengan memanfaatkan jasa dan pelayanan bagi 'bulk carrier' yang melintas tiap hari.
Sabtu, 10 Maret 2012
Selat Malaka
Salam Kebangsaan...
Selat Malaka masih menjadi bahasan yang menarik dan diperbincangkan banyak orang karena dinamikanya yang tinggi namun hanya sebatas pembicaraan saja belum pada pengelolaan yang maksimal. Pembajakan dan perompakan selalu menjadi bahasan dan selalu dikait-kaitkan dengan kesalahan Indonesia yang menurutnya tidak cakap untuk mengamankan selat malaka. Ada beberapa organisasi maritim dunia yang berhak mengeluarkan pernyataan mengenai keamanan perairan di seluruh dunia dan pernyataan ini digunakan pelaut di seluruh dunia sebagai panduan pelayaran. Kejadian di selat malaka pada umumnya seperti kejadian normal di selat-selat seluruh dunia yang padat dan uniknya selat malaka juga merupakan perlintasan perahu tradisional milik masyarakat yang memang hidup dari laut dan tentu saja lebih banyak menggunakan lautan sebagai 'rumahnya'. Setiap kapal dagang (merchant ship) yang melintasi selat malaka menuju laut cina selatan berhak untuk memberikan laporan kepada organisasi maritim dunia mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan navigasi. Laporan itu di-filter dulu di Singapura setelah itu baru diteruskan ke organisasi maritim dunia. Pertanyaannya apakah betul memang terjadi pembajakan atau perompakan di selat malaka seperti laporan yang diterbitkan? laporan yang masuk ke Singapura adalah laporan mentah yang belum tentu kebenarannya dapat di buktikan dan tidak semua awak kapal mempunyai pemahaman yang sama apa itu pembajakan dan perompakan. Perahu tradisional yang melintasi malam hari dengan kecepatan tinggi itu sudah dapat dilaporkan sebagai ancaman pembajakan dan bodohnya laporan itu diterima Singapura mentah-mentah lalu di-forward ke Indonesia dan kejadian itu selalu terulang. Tentu saja hal ini sangat merugikan bagi Indonesia karena selalu saja asumsi pelaku pembajakan dan perompakan itu dari Indonesia padahal kenyataanya tidak demikian. Lebih mengecewakan lagi pejabat di Indonesia meng-iyakan bila menerima laporan dari Singapura seolah-olah itu 'sudah biasa'. Inilah stempel yang selama ini melekat di selat malaka karena tingginya tingkat pembajakan dan perompakan dan Indonesia pastinya lebih dirugikan karena laporan ini. Singapura seharusnya lebih bijak lagi dalam menerima laporan dari pengguna jasa selat malaka dan tidak seharusnya merugikan pihak lain yang tentu saja selalu menguntungkan Singapura. Pun dengan pejabat di Indonesia sebaiknya tidak serta merta menerima dengan mentah-mentah laporan dari Singapura. Tingginya angka pembajakan dan perompakan yang diterbitkan oleh organisasi maritim dunia perbulan bisa jadi karena keteledoran dan ketidakjelian kita yang selalu saja dapat menerima dengan tanpa bantahan kalo itu memang benar terjadi tanpa pembuktian yang nyata.
Langganan:
Postingan (Atom)