Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

Komando Pertahanan Maritim Nasional

Salam Kebangsaan...
Sebuah buku lawas publikasi resmi  yang diterbitkan oleh Biro Penerangan KOHANMARNAS (Komando Pertahanan Maritim Nasional) pada masa pembangunan ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) mendiskripsikan awal pembentukan KOPPANAS (Komando Pertahanan Pantai) milik pemerintah Republik Indonesia ketika itu. Di awal tahun 60an Republik Indonesia memang sedang gencar-gencarnya melakukan persiapan operasi pembebasan Irian Barat dengan didatangkannya Kapal Perang, Pesawat pembom, Tank, Peluru Kendali dan sebagainya dalam jumlah besar. Sesuai dengan keputusan Presiden Republik Indonesia No.9/PLM.BS. tahun 1962 dan sehubungan dengan peristiwa perebutan Irian Barat sebutan KOPPAN berubah menjadi KOPPANAS (Komando Pertahanan Nasional) yang berkedudukan langsung dibawah Kepala Staf Angkatan Laut. Sesuai dengan keputusan Presiden R.I. No50 tahun 1965 didalam pelaksanaan tugasnya merupakan pelaksana dari KOTI (Komando Tertinggi) dan KOTOE (Komando Tertinggi Operasi Ekonomi) dengan medan tugas seluruh wilayah Maritim Nasional  yang mengintegrasikan seluruh sistem senjata darat, laut dan udara yang dimiliki saat itu. Kemudian sesuai dengan Keputusan KOTI No.87 tahun 1965 disempurnakan organisasinya dan berubah menjadi KOHANMARNAS berkedudukan langsung dibawah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pembentukan dan peresmian organisasi tersebut diupacarakan dalam satu upacara militer gabungan seluruh Angkatan di Jakarta pada tanggal 26 Maret 1966. Setelah melalui transisi poilitk di masa itu dan sebagai Komando Utama Operasional kemudian beralih kendali dibawah Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sesuai dengan Keputusan Presiden R.I. No.32 tahun 1967. Tugas Pokok KOHANMARNAS sesuai dengan Keputusan Menhankam/Pangab No.KEP/A/507/68 tanggal 16 Desember 1968 adalah 'Menghalau dan menggagalkan setiap serangan musuh dan menghancurkan kesatuan-kesatuan yang memasuki wilayah perairan teritorial Indonesia sebelum musuh menyerang obyek vital baik dalam bentuk invasi maupun intervensi dengan perlawanan-perlawanan defensif strategis yang luas dan berlanjut'. Pengembangan organisasi ditingkatkan dengan dibentuknya Komando-Komando wilayah pertahanan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku Irian Barat. Sebutan Maluku Irian Barat memang satu kalimat mengingat pada saat itu belum dilaksanakan peristiwa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) yang dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 1969 sampai dengan1 Agustus 1969. Salah satu fungsinya adalah membina integritas pengendalian sistem pertahanan maritim nasional serta pengawasan penyelenggaraan operasi pertahanan di seluruh wilayah perairan Indonesia dan penyelenggaraan kegiatan dan kelancaran hubungan laut di wilayah Maritim Nasional. Satuan tersebut pada saat ini memang sudah tidak berwujud lagi namun semangat tinggi dan kemauan para petinggi Republik ketika itu untuk menggabungkan sebagai kekuatan terpadu patut diberikan apresiasi yang tinggi. Dari sejarah lah bangsa ini bisa besar dan dengan tetap menghargai sejarah yang benar maka bangsa ini dapat sejajar dengan bangsa lain di dunia.

Senin, 09 April 2012

Sejarah Bangsa Sendiri

Salam Kebangsaan...
Akhir-akhir ini dunia perfilman Indonesia diramaikan dengan hadirnya film-film nasional yang bertemakan tentang perjuangan di tahun 1945 yang dibumbui cerita percintaan seputar anak muda dan pengaruhnya dengan lingkungan pada masa itu. Hal ini merupakan fenomena yang menarik karena telah beberapa lama film yang bertema tentang perjuangan tidak diproduksi karena tidak dapat memberikan keuntungan yang signifikan di industri perfilman Indonesia. Bangkitnya industri film Indonesia khususnya yang menceritakan tentang heroisme para pendahulu di masa perjuangan patut mendapatkan penghargaan sebagai langkah nyata untuk menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap bangsanya sendiri. Namun sayangnya film-film ini belum mendapatkan tempat yang layak di hati para penonton layar lebar yang cenderung menikmati film produksi dari negara lain yang lebih menarik dan seru dilihat. Bahkan yang pernah saya alami di suatu tempat nonton terkenal ibukota hanya satu dua penonton saja yang rela beli karcis untuk nonton film perjuangan Indonesia dan ironisnya justru ramai ketika film yang diputar bertema action mandarin atau fiction non ilmiah yang bahasanya sangat sulit untuk dipahami. Pertanyaannya adalah sudah sampai tahap seperti itukah penghargaan kita terhadap karya bangsa sendiri sehingga tidak lagi menghargai karya sendiri? atau justru sebaliknya, para produser dan sutradara sudah tidak lagi mampu menghasilkan film yang berkualitas sebagai sarana untuk meningkatkan 'kebanggaan' terhadap bangsa sendiri? Film atau gambar bergerak bersuara merupakan sarana yang paling ampuh sebagai media 'propaganda' negara untuk mengajak rakyatnya ke arah yang telah ditentukan dengan menyelaraskan pola pikir, pola tindak dan pola sikap sebagai bangsa yang lebih unggul. di negara-negara maju film sudah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dan merupakan tanggung jawab pemerintah untuk mencerdaskan dan memajukan bangsanya. Apalagi film perjuangan yang notabene merupakan ungkapan sejarah di masa lalu yang dapat dijadikan panutan bagi generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. Bangsa ini telah melalui berbagai macam perjuangan dan pengorbanan untuk dapat meraih kemerdekaan yang dirasakan pada hari ini, tentunya banyak pula kisah-kisah heroik dan patriotik yang dapat dijadikan teladan bagi generasi muda. Sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian lebih dalam mengangkat kisah tersebut ke dalam layar lebar. Kita punya banyak sutradara kaliber dunia yang mampu membuat film seperti itu. Bila ada kemauan dari pemerintah tentunya sangat mudah mewujudkan hal tersebut. Sudah banyak pekerja industri perfilman yang mengenyam pendidikan di luar negeri dan bila keahlian mereka dihargai tentunya keinginan untuk mewujudkan hal tersebut dapat tercapai. Dengan mengeluarkan 'sedikit' anggaran yang diambil dari keuangan negara saja sebenarnya sudah cukup untuk menjawab permasalahan itu dan memang harus ada political will yang jelas. Tidak susah untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan duduk bersama dan saling bicara menggunakan hati yang jernih. Kita masih punya ribuan bahkan jutaan kisah heroik dan patriotik yang tak kalah serunya dengan kisah di dalam film mereka.